Saat ingin membuat produk herbal yang digunakan pada bagian luar tubuh, salah satu keputusan awal yang perlu ditentukan adalah bentuk sediaannya.
Apakah produk lebih cocok dibuat dalam bentuk spray? Minyak oles? Gel? Atau balm?
Sekilas, perbedaannya mungkin hanya terlihat pada tekstur dan kemasan. Padahal, bentuk sediaan akan memengaruhi cara konsumen menggunakan produk, pengalaman saat pemakaian, konsep kemasan, positioning produk, hingga pengembangan formulanya.
Karena itu, memilih sediaan herbal topikal sebaiknya tidak dimulai dari pertanyaan, “Mana yang sedang tren?” tetapi dari pertanyaan:
“Produk ini ingin digunakan seperti apa dan untuk siapa?”
Kenapa Bentuk Sediaan Penting Saat Membuat Produk Herbal?
Dua produk dengan konsep penggunaan yang hampir sama dapat memberikan pengalaman yang berbeda hanya karena bentuk sediaannya berbeda.
Produk dalam botol spray, misalnya, digunakan tanpa perlu banyak kontak dengan tangan. Sementara minyak biasanya lebih identik dengan penggunaan secara oles dan pijat. Gel memberikan sensasi pemakaian yang lebih ringan, sedangkan balm menawarkan bentuk yang lebih padat dan praktis dibawa.
Artinya, keputusan bentuk sediaan tidak hanya berkaitan dengan formula.
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan:
- Cara produk akan digunakan
- Area penggunaan
- Kebiasaan target konsumen
- Sensasi yang ingin diberikan saat pemakaian
- Bentuk dan ukuran kemasan
- Positioning produk di pasar
- Formula yang akan dikembangkan
- Kesesuaian bentuk sediaan dengan jalur legalitas produk
Mari kita bedah satu per satu.
1. Spray: Praktis untuk Penggunaan Cepat
Sediaan spray cocok ketika konsep produk membutuhkan cara penggunaan yang cepat, praktis, dan dapat diarahkan langsung ke area tertentu.
Pengguna cukup menyemprotkan produk tanpa harus menuangkan cairan terlebih dahulu ke tangan.
Karakter seperti ini membuat spray menarik untuk produk yang diarahkan pada konsumen dengan mobilitas tinggi atau produk yang ingin memberikan pengalaman penggunaan yang sederhana.
Spray bisa dipertimbangkan jika:
- Produk ingin digunakan dengan cepat
- Area penggunaan cukup spesifik
- Konsumen tidak perlu banyak mengoles menggunakan tangan
- Produk ingin dikemas dalam bentuk yang praktis dibawa
- Brand ingin menghadirkan kesan produk yang lebih modern
Namun, sistem spray juga membuat aspek seperti viskositas formula, jenis nozzle, pola semprotan, dan kompatibilitas kemasan perlu diperhatikan sejak tahap pengembangan.
Formula yang terlalu kental tentu membutuhkan pendekatan kemasan yang berbeda dengan cairan yang lebih ringan.
2. Minyak Oles: Cocok untuk Konsep Penggunaan Sambil Dipijat
Minyak merupakan salah satu bentuk yang cukup familiar pada kategori produk herbal luar.
Karakter minyak membuat produk mudah dikaitkan dengan pola penggunaan secara oles, usap, atau pijat pada bagian tubuh tertentu.
Karena pola penggunaannya sudah familiar, konsumen biasanya tidak membutuhkan banyak edukasi untuk memahami cara menggunakan produk.
Minyak dapat dipilih jika:
- Produk memang dirancang untuk penggunaan secara oles
- Penggunaan produk melibatkan pijatan
- Brand ingin mempertahankan karakter produk herbal yang familiar
- Konsumen membutuhkan durasi pengolesan yang lebih leluasa
- Konsep produk cocok dengan kemasan botol minyak
Dari sisi pengembangan brand, minyak juga cukup fleksibel.
Produk dapat diarahkan menjadi lebih tradisional, natural, keluarga, ataupun dikemas dengan pendekatan yang lebih premium dan modern.
Jadi, penggunaan bentuk minyak tidak otomatis membuat sebuah produk terlihat “tradisional”. Desain kemasan, komunikasi brand, aroma, tekstur, dan positioning tetap mempunyai peran besar.
3. Gel: Ringan dan Cocok untuk Konsep Produk Modern
Gel mempunyai karakter berbeda dibandingkan minyak.
Bentuknya lebih kental tetapi tetap mudah diratakan, sehingga dapat menjadi pilihan ketika brand ingin menghadirkan pengalaman penggunaan yang terasa lebih ringan dan modern.
Gel juga menarik secara visual karena dapat dibuat dalam kemasan tube, pump, maupun bentuk kemasan lain yang sesuai dengan formulanya.
Gel dapat dipertimbangkan ketika:
- Brand ingin menawarkan pengalaman pemakaian yang ringan
- Konsumen kurang menyukai karakter produk yang terlalu berminyak
- Produk ingin memiliki positioning yang lebih modern
- Kemasan ingin dibuat ringkas dan praktis
- Tekstur menjadi salah satu bagian penting dari pengalaman produk
Namun, jangan menentukan gel hanya karena terlihat lebih modern.
Formula gel mempunyai karakter pengembangan tersendiri. Stabilitas tekstur, bahan dasar, kompatibilitas bahan aktif, hingga kemasan perlu diperhitungkan saat formulasi.
4. Balm: Padat, Ringkas, dan Mudah Dioleskan pada Area Tertentu
Balm memiliki konsistensi yang lebih padat dibandingkan minyak dan gel.
Produk biasanya diambil secukupnya menggunakan jari kemudian dioleskan pada area yang diinginkan.
Karakter tersebut membuat balm cocok untuk konsep produk yang ingin memberikan pengalaman penggunaan ringkas, mudah dibawa, dan tidak mudah tumpah.
Balm dapat menjadi pilihan jika:
- Produk ingin dibuat dalam ukuran relatif ringkas
- Penggunaan difokuskan pada area tertentu
- Konsumen membutuhkan produk yang mudah dibawa
- Brand menginginkan tekstur semi-padat atau padat
- Pengalaman aplikasi secara langsung menjadi bagian dari konsep produk
Kemasan jar kecil atau wadah balm juga membuka cukup banyak kemungkinan dari sisi desain.
Produk dapat diarahkan menjadi herbal klasik maupun dibuat lebih minimalis dan premium tergantung target pasarnya.
Spray, Minyak, Gel, atau Balm: Mana yang Lebih Cocok?
Tidak ada satu bentuk sediaan yang otomatis lebih baik dibandingkan yang lain.
Pilihan terbaik bergantung pada konsep produknya.
Pertimbangan:
- Spray: cara penggunaan dengan disemprot, tekstur cair, sangat praktis dibawa, kontak tangan minimal, kurang utama untuk pijat, kesan produk praktis dan modern, tantangan pengembangan ada pada sistem semprot.
- Minyak: cara penggunaan dengan dioles atau dipijat, tekstur cair berminyak, tergantung kemasan untuk kepraktisan, ada kontak tangan saat penggunaan, sangat sesuai untuk pijat, kesan produk lebih familiar dan fleksibel, tantangan pengembangan ada pada karakter minyaknya.
- Gel: cara penggunaan dengan dioles, tekstur semi-padat, praktis dibawa, ada kontak tangan saat penggunaan, bisa digunakan untuk pijat, kesan produk modern dan ringan, tantangan pengembangan ada pada stabilitas gel.
- Balm: cara penggunaan dengan dioles, tekstur lebih padat, tetap praktis dibawa, ada kontak tangan saat penggunaan, terbatas untuk pijat, kesan produk ringkas dan premium, tantangan pengembangan ada pada konsistensi tekstur.
Tabel tersebut sebaiknya digunakan sebagai panduan awal, bukan standar mutlak. Formula, bahan yang digunakan, tujuan produk, desain kemasan, dan target pasar dapat mengubah pendekatan pengembangannya.
Jangan Samakan Semua Produk Topikal sebagai Cairan Obat Luar
Ini menjadi bagian yang cukup penting saat merencanakan produk herbal.
Dalam terminologi BPOM, Cairan Obat Luar (COL) memiliki pengertian tersendiri. Regulasi BPOM mendeskripsikan Cairan Obat Luar sebagai sediaan obat tradisional berupa minyak, larutan, suspensi, atau emulsi yang digunakan sebagai obat luar.
Sementara itu, BPOM juga mengenal gel sebagai bentuk sediaan setengah padat.
Karena itu, saat mengembangkan spray, minyak, gel, balm, atau bentuk topikal lainnya, jangan menentukan kategori registrasinya hanya berdasarkan penyebutan produk di pasar.
Formula, bentuk sediaan, tujuan penggunaan, klaim, fasilitas produksi, dan jalur registrasi perlu dicocokkan terlebih dahulu.
Untuk konsep produk berbentuk cair yang digunakan dari luar, Anda juga dapat mempelajari layanan Maklon Cairan Obat Luar (COL) Tibtera untuk melihat ruang pengembangan produknya.
Mulai dari Cara Konsumen Menggunakan Produk
Daripada langsung mengatakan:
“Saya mau bikin minyak herbal.”
Akan lebih baik jika konsep produk dimulai dari kebutuhan penggunaannya.
Contohnya:
“Saya ingin produk yang bisa langsung digunakan tanpa perlu dituangkan ke tangan.”
Spray kemungkinan lebih relevan untuk dieksplorasi.
“Saya ingin produk yang digunakan sambil dipijat.”
Minyak dapat menjadi bentuk yang lebih natural bagi pola penggunaan tersebut.
“Target saya kurang menyukai produk yang terasa terlalu berminyak.”
Gel dapat menjadi salah satu arah pengembangan yang dipertimbangkan.
“Saya ingin produk kecil yang gampang dibawa ke mana-mana.”
Balm bisa menjadi pilihan menarik.
Dengan pola berpikir seperti ini, bentuk produk dipilih berdasarkan kebutuhan pasar, bukan sekadar mengikuti produk kompetitor.
5 Pertanyaan Sebelum Menentukan Sediaan Herbal Topikal
Sebelum masuk ke tahap formulasi, coba jawab lima pertanyaan berikut.
1. Produk akan digunakan untuk siapa?
Produk untuk pengguna aktif tentu dapat memiliki kebutuhan berbeda dengan produk yang ditujukan untuk penggunaan di rumah.
2. Bagaimana konsumen akan menggunakannya?
Disemprot, dioles, dipijat, atau cukup digunakan pada bagian tertentu?
3. Pengalaman seperti apa yang ingin diberikan?
Apakah ingin ringan, mudah diratakan, lebih berminyak, lebih padat, atau praktis tanpa banyak kontak tangan?
4. Produk akan dibawa bepergian atau digunakan di rumah?
Hal sederhana seperti ini dapat memengaruhi pemilihan ukuran dan jenis kemasan.
5. Bagaimana positioning brand-nya?
Produk herbal tidak selalu harus memiliki tampilan tradisional.
Sediaan yang sama dapat dibangun untuk pasar yang berbeda melalui konsep formula, desain, kemasan, komunikasi, dan positioning yang tepat.
Jangan Memilih Kemasan Setelah Formula Selesai
Kesalahan lain yang sebaiknya dihindari adalah menganggap kemasan hanya sebagai tahap desain.
Pada produk topikal, formula dan kemasan perlu dikembangkan dengan mempertimbangkan satu sama lain.
Spray membutuhkan sistem semprot yang sesuai. Minyak membutuhkan wadah dan sistem penutup yang cocok dengan karakter cairannya. Gel membutuhkan kemasan yang memudahkan produk keluar. Balm membutuhkan wadah yang nyaman untuk pengambilan produk.
Karena itu, keputusan mengenai bentuk produk idealnya sudah mulai dibicarakan sejak awal pengembangan.
Ingin Membuat Produk Herbal Topikal? Tentukan Konsepnya Lebih Dulu
Spray, minyak, gel, dan balm memiliki karakter masing-masing.
Bukan soal bentuk mana yang terlihat paling menarik, tetapi mana yang paling sesuai dengan cara produk akan digunakan, siapa konsumennya, bagaimana positioning brand-nya, serta bagaimana produk tersebut nantinya dikembangkan dan diproduksi.
Jika masih berada pada tahap ide, Anda tidak harus langsung menentukan seluruh detail formula sendiri.
Tim Tibtera dapat membantu mendiskusikan konsep produk, bentuk sediaan yang ingin dikembangkan, formula, sample, pilihan kemasan, kebutuhan legalitas, hingga proses produksi sesuai ruang lingkup layanan yang tersedia.
Punya konsep produk herbal sendiri? Konsultasikan kebutuhan maklon Anda bersama Tibtera dan tentukan bentuk sediaan yang paling sesuai sebelum masuk ke tahap pengembangan produk.
FAQ Seputar Pemilihan Sediaan Herbal Topikal
Apakah spray lebih baik daripada minyak herbal?
Tidak selalu. Spray dan minyak mempunyai karakter penggunaan berbeda. Pemilihannya sebaiknya disesuaikan dengan konsep produk dan kebiasaan target konsumen.
Apakah produk herbal topikal harus berbentuk minyak?
Tidak. Produk untuk penggunaan luar dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, tetapi bentuk sediaan dan klasifikasi produknya perlu disesuaikan dengan formula serta ketentuan registrasi yang berlaku.
Apakah bentuk produk harus ditentukan sebelum konsultasi maklon?
Tidak harus sudah final. Justru tahap konsultasi dapat digunakan untuk membahas konsep penggunaan, target konsumen, bentuk sediaan, formula, dan pilihan kemasan sebelum pengembangan dilanjutkan.
Apa yang perlu disiapkan sebelum konsultasi maklon herbal?
Minimal siapkan gambaran mengenai jenis produk yang ingin dibuat, target konsumennya, cara penggunaan yang diinginkan, referensi produk jika ada, serta positioning brand yang dituju. Detail formula dapat dibahas lebih lanjut pada tahap pengembangan.
